Ini adalah hari ke 35 sejak ia menyudahi semuanya. Ia meninggalkanku dengan alasan Hijrah.
Hijrah? Ku banyak bertanya dalam hati apa yang membuatnya tiba-tiba mengatakan hal itu, setelah berulang kali aku merasa kesulitan untuk merubahnya menjadi yang lebih baik.
Begini kisah awalnya..
370 hari yang lalu, untuk pertama kalinya dia mengajakku jalan, called kencan.
Memang hal itu sudah sangat aku tunggu di satu minggu sebelumnya sejak ia mulai bekerja diperusahaan yang sama denganku.
Ia karyawan baru, terlihat pendiam dan tak banyak tingkah.
Aku melihatnya pertama kali melalui kamera CCTV yang ada diruanganku, karena kebetulan akupun bekerja sebagai pemantau layar CCTV diperusahaan tsb.
Aku melihatnya kebingungan ketika sudah berada didalam kantor. Ia berjalan menuju receptionist untuk menanyakan ruangan kerjanya. Singkat cerita, beberapa hari kemudian aku mendatanginya ke ruangan tempat kerjanya.Aku datang untuk memberikan ID card resmi kantor yang baru saja dibuat oleh atasanku yang dititipkan kepadaku.
Hari itu masih pagi, sekitar jam 8 ku datang keruangannya sekaligus berkenalan. Hal ini sungguh sangat asing ku lakukan, karena sebelumnya aku merasa tidak pernah antusias kepada pegawai baru, tapi yang ini berbeda.
Tanpa terasa 1 jam berlalu dalam obrolan canda dan tawa, hingga akhirnya ku pamit pergi meninggalkan ruangannya tanpa ia meminta nomor ponselku.
Aku tidak pernah sebegini sebelumnya.
Tidak pernah menjadi mudah.
Tidak pernah terlalu berharap.
Tapi dengannya, ku merasakan hal lain. Ku merasa ingin menunjukan usahaku tuk bisa dekat dengannya setelah sebelumnya ku sangat susah membuka hati kepada yang lain. Selalu orang lain yang berusaha untukku, tapi dengan yang ini, ku merasa bahwa aku ingin yang berusaha untuk seseorang; dia.
1 minggu kemudian dia meminta nomor ponselku lewat jaringan intercome diruangannya yang terhubung ke ruanganku. Jelas hati ini sangat bahagia! Ku loncat-loncat diruanganku, tersenyum sepanjang hari, hingga akhirnya malam tiba dan ia mengajakku tuk makan malam diluar.
Kafe Ayam Karawaci. Itulah tempat pertama ku makan bersamanya. Berbagi cerita dan pengalaman, hingga saling bertanya soal keluarga.
10 Januari 2017. Ku masih sangat ingat.
Pagi ini ia mengahampiriku, setelah hampir 14 hari aku tak melihatnya.
Dua minggu itu ku pakai cuti dengan alasan utama ku ingin melihatnya 'bagaimana' jika tanpaku.
Sayangnya, ia terlihat biasa saja. Lagi-lagi aku harus jatuh diharapan yang buat sendiri.
Ia menghampiriku, setelah dengan usahaku menghindarinya.
Dengan mata minus, ku lihat postur tubuhnya berjalan menuju arahku yang akan pulang seusai kerja shift malam.
Aku melihat ke arahnya namun hanya jelas sekitar 5 menit ketika ia telah berada tepat dihadapanku.
Ia tak menanyakan kondisiku. Ia tak bertanya kabarku dengan tubuh dan pipi yang semakin kurus. Ia menanyakan baju yang ku simpan dilokernya, baju kotornya yang pernah ia titipkan dan ku laundry di kos ku.
Ia berbicara soal pas bandara karena dari dulu ia selalu mengantarku hingga depan area angkutan ditiap shift ku tidak sama dengannya. Misal, aku pulang pagi karena habis kerja shift malam, kemudian ia datang pagi untuk memulai kerja di shift pagi, sehingga ada waktu dimana kita bertemu sebelum ku keluar gedung perusahaan.
Saat itu, ia tak bisa mengantarku karena pass bandara nya expired, sehingga ada larangan untuk tak bisa keluar area.
Tapi pertanyaan hatiku, kenapa ia masih berfikir untuk mengantarku? setelah 14 hari yang lalu ku berikan belasan lembar surat isi hatiku yang ku simpan diam-diam dilokernya sebelum aku menghilang untuk cuti tanpa memberitahunya.
Di dalam satu surat, ku beri kertas catatan kecil "Mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi, aku ingin melupakanmu." Tidak mungkin jika ia tak membacanya.
Footage:
2= Kartu berbayar sebagai tanda masuk yang resmi dari otoritas bandara untuk orang yang berkepentingan masuk ke area internal.
Hijrah? Ku banyak bertanya dalam hati apa yang membuatnya tiba-tiba mengatakan hal itu, setelah berulang kali aku merasa kesulitan untuk merubahnya menjadi yang lebih baik.
Begini kisah awalnya..
370 hari yang lalu, untuk pertama kalinya dia mengajakku jalan, called kencan.
Memang hal itu sudah sangat aku tunggu di satu minggu sebelumnya sejak ia mulai bekerja diperusahaan yang sama denganku.
Ia karyawan baru, terlihat pendiam dan tak banyak tingkah.
Aku melihatnya pertama kali melalui kamera CCTV yang ada diruanganku, karena kebetulan akupun bekerja sebagai pemantau layar CCTV diperusahaan tsb.
Aku melihatnya kebingungan ketika sudah berada didalam kantor. Ia berjalan menuju receptionist untuk menanyakan ruangan kerjanya. Singkat cerita, beberapa hari kemudian aku mendatanginya ke ruangan tempat kerjanya.Aku datang untuk memberikan ID card resmi kantor yang baru saja dibuat oleh atasanku yang dititipkan kepadaku.
Hari itu masih pagi, sekitar jam 8 ku datang keruangannya sekaligus berkenalan. Hal ini sungguh sangat asing ku lakukan, karena sebelumnya aku merasa tidak pernah antusias kepada pegawai baru, tapi yang ini berbeda.
Tanpa terasa 1 jam berlalu dalam obrolan canda dan tawa, hingga akhirnya ku pamit pergi meninggalkan ruangannya tanpa ia meminta nomor ponselku.
Aku tidak pernah sebegini sebelumnya.
Tidak pernah menjadi mudah.
Tidak pernah terlalu berharap.
Tapi dengannya, ku merasakan hal lain. Ku merasa ingin menunjukan usahaku tuk bisa dekat dengannya setelah sebelumnya ku sangat susah membuka hati kepada yang lain. Selalu orang lain yang berusaha untukku, tapi dengan yang ini, ku merasa bahwa aku ingin yang berusaha untuk seseorang; dia.
1 minggu kemudian dia meminta nomor ponselku lewat jaringan intercome diruangannya yang terhubung ke ruanganku. Jelas hati ini sangat bahagia! Ku loncat-loncat diruanganku, tersenyum sepanjang hari, hingga akhirnya malam tiba dan ia mengajakku tuk makan malam diluar.
Kafe Ayam Karawaci. Itulah tempat pertama ku makan bersamanya. Berbagi cerita dan pengalaman, hingga saling bertanya soal keluarga.
10 Januari 2017. Ku masih sangat ingat.
* * *
Pagi ini ia mengahampiriku, setelah hampir 14 hari aku tak melihatnya.
Dua minggu itu ku pakai cuti dengan alasan utama ku ingin melihatnya 'bagaimana' jika tanpaku.
Sayangnya, ia terlihat biasa saja. Lagi-lagi aku harus jatuh diharapan yang buat sendiri.
Ia menghampiriku, setelah dengan usahaku menghindarinya.
Dengan mata minus, ku lihat postur tubuhnya berjalan menuju arahku yang akan pulang seusai kerja shift malam.
Aku melihat ke arahnya namun hanya jelas sekitar 5 menit ketika ia telah berada tepat dihadapanku.
"Itu baju siapa?" Kalimat pertama yang ia lontarkan, setelah di satu minggu yang lalu ku kabarkan tentangku yang di opname karena sakit demam yang tak kunung turun.Seharusnya aku sadar diawal, bagaimana mungkin ia menanyakan kabarku setelah menjenguk pun tak ada niat dibenaknya saat itu!
Ia tak menanyakan kondisiku. Ia tak bertanya kabarku dengan tubuh dan pipi yang semakin kurus. Ia menanyakan baju yang ku simpan dilokernya, baju kotornya yang pernah ia titipkan dan ku laundry di kos ku.
"Mana oleh-olehnya?" Kalimat keduanya.
"Pas bandara2 ku habis." kalimat berikutnya, sambil mencoba menunjukan pas bandara yang tak sedikitpun mampu ku lihat.Aku bertanya-tanya dalam hati setelah mendengar kalimat ketiganya.
Ia berbicara soal pas bandara karena dari dulu ia selalu mengantarku hingga depan area angkutan ditiap shift ku tidak sama dengannya. Misal, aku pulang pagi karena habis kerja shift malam, kemudian ia datang pagi untuk memulai kerja di shift pagi, sehingga ada waktu dimana kita bertemu sebelum ku keluar gedung perusahaan.
Saat itu, ia tak bisa mengantarku karena pass bandara nya expired, sehingga ada larangan untuk tak bisa keluar area.
Tapi pertanyaan hatiku, kenapa ia masih berfikir untuk mengantarku? setelah 14 hari yang lalu ku berikan belasan lembar surat isi hatiku yang ku simpan diam-diam dilokernya sebelum aku menghilang untuk cuti tanpa memberitahunya.
Di dalam satu surat, ku beri kertas catatan kecil "Mulai sekarang kita tidak usah bertemu lagi, aku ingin melupakanmu." Tidak mungkin jika ia tak membacanya.
* * *
Masih dihari yang sama. Tepat pukul 18:50 aku baru bisa pergi ke musola untuk mengerjakan sholat magrib setelah menghandle kerjaanku yang tak dapat aku tunda sejak sore.
Dalam rokaat kedua khusyuk ku terganggu karena dari arah kananku datang seseorang yang aku kenali suaranya; dia.
Seperti biasa, ia muncul tiba-tiba yang walaupun hanya berdiri maupun duduk berjarak 100 meter tanpa berbuat apapun pun mampu membuatku batal kemudian mengusirnya keluar untuk memulai sholat diawal lagi. Tapi kali ini berbeda, ketika ku merasa ia ada disebelahku, yang ku ingat hanyalah kebencian dari semua perlakuannya yang sudah jahat terhadapku. Aku hanya beristigfar, kemudian melanjutkan sholatku dengan menahan air mata hingga akhirnya ia pergi dengan sendirinya.
Seusai sholat, ku tak lagi mendengar suaranya.
"Aku pulang ya" via whatsApp.
"Oke hati-hati" ku meng-copy-paste text nya yang pernah ia kirim sore hari tadi sebelum ku berangkat kerja. Text nya yang datar tanpa basa basi atau emoticon lainnya.
Dan ia hanya membacanya.
30 menit berlalu. Adzan isya berkumandang, ku niatkan untuk mengikuti jamah di masjid raya area depan kantorku. Ku berjalan menuju masjid dengan hati yang terus ngilu.
Kalau pemakai narkoba, mungkin saat itu ku merasa sangat sakau. Ku mencari obat ditempat yang ku yakini, ku mencari pemilik obatnya tuk merengek sembuh; Allah.
Lagi-lagi ku mengadu tentang satu hari ini yang berlalu dengan banyak pertanyaan dibenak.
Ya Allah.. Jika ia tak bisa kembali padaku, maka buat lah hati ini seperti hatinya.. Buat lah apa yang aku rasakan seperti apa yang ia rasakan. Buatlah aku setenang dia yang tidak mengkhawatirkan ku. Buat lah aku tidak mengkhawatirkannya seperti yang ia lakukan terhadapku.. Ku membatin.
Hujan turun. Jam masih ada dipukul 20:10 PM, ia masih tak membalas whatsApp ku.
Apa dia sudah sampai kosnya? Ya Allah..
2= Kartu berbayar sebagai tanda masuk yang resmi dari otoritas bandara untuk orang yang berkepentingan masuk ke area internal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar